- Banjar Watu Lembu
- Berdasarkan sumber/buku “Inti Silsilah dan Sejarah Banyumas”
Di era kepemimpinannya, kabupaten dipindahkan ke sebelah barat Sungai Merawu dengan nama Kabupaten Banjar Watu Lembu (Banjar Selo Lembu).
R. Ngabehi Mangunyudo II merupakan Bupati Banjar Watu Lembu pertama, yang kemudian digantikan oleh puteranya, bergelar R. Ngabehi Mangunyudo III yang kemudian berganti nama menjadi Kyai R. Ngabehi Mangunbroto, Bupati Anom Banjar Selolembu. Masih dari sumber yang sama, R. Ngabehi Mangunbroto wafat karena bunuh diri.
Penggantinya adalah R.T. Mangunsubroto yang memerintah Kabupaten Banjar Watu Lembu sampai Tahun 1831. Karena Kabupaten Banjar Watu Lembu sangat antipasti terhadap Belanda, maka setelah Perang Diponegoro dimana kemenangan dipihak Belanda, kabupaten Banjar Watu Lembu diturunkan statusnya menjadi distrik dengan dua penguasa yaitu R. Ngabehi Mangunsubroto dan R. Ng. Ranudirejo.
- Berdasarkan sumber “Register sarasilah Keturunan R. Ngabehi Banyakwide dan Register Catatan Legenda Riwayat Kanjeng Sunan Giri Wasiat, Kyai Panembahan Giri Pit, Nyai Ageng Sekati”
Pada masa pemerintahannya, kabupaten dipindahkan ke sebelah barat Sungai Merawu dan kemudian dinamakan Kabupaten “Banjar Watulembu”.
Sikap Adipati Manyunyudo II yang sangat antipasti terhadap Belanda dan bahkan turut memperkuat pasukan Diponegoro dalam perang melawan Belanda (dimana perang tersebut berakhir dengan kemenangan di pihak Belanda), berakibat R. Ngabehi Mangunyudo II dipecat sebagai Bupati banjar Watu Lembu. Dan pada saat itu pula status Banjar Watu Lembu diturunkan menjadi distrik dengan dua penguasa yaitu R. Ngabehi Mangun Broto dan R. Ngabehi Ranudirejo.
Terlepas sumber mana yang benar, para pemimpin/Bupati Banjar mulai dari Mangunyudo I sampai Mangunsubroto atau Mangunyudo II, semuanya anti penjajah Belanda.
- Pemindahan Pemerintahan dari Banjar Watu Lembu menjadi Banjarnegara
Setelah mendapat izin, maka berdasarkan Resolutie Governeur General Buitenzorg tanggal 22 Agustus 1831 Nomor I, maka Raden Tumenggung Dipoyudho IV resmi menjabat Bupati Banjar Watu Lembu.
Beberapa saat setelah pengangkatannya, raden Tumenggung Dipoyudho IV meminta izin kepada Paku Buwana VII di Kasunanan Surakarta untuk memindahkan kota kabupaten ke sebelah selatan Sungai Serayu. Setelah permintaan tersebut dikabulkan, maka dimulailah pembangunan kota kabupaten yang semula berupa daerah persawahan.
Untuk mengenang asal mula kota kabupaten baru yang berupa persawahan dan telah dibangun menjadi kota, kabupaten baru tersebut diberi nama “BANJARNEGARA” (MAKSUD Sawah = Banjar, berubah menjadi kota = Negara) hingga sekarang.
Kota banjarnegara itu dulunya bukan sawah, tapi wilayah konservasi berupa hutan. kakek buyutku dan kakekku adalah dua orang diantara ribuan orang yang ikut mencangkul untuk meratakan tanah itu.
BalasHapusMemang Dipayuda IV perintis dan Bupati Kab Banjarnegara I. Yaitu berdasarkan besluit kesepakatan Raja dg pihak Hindia Belanda, setelah Perang Diponegoro 1830, tepatnya 1831. Sebelum ini di Banjar ada dua orang Ngabei yg masing2 diperintah oleh dua Adipati Kesepuhan di Banyumas, dan Adipati Kanoman di Banyumas juga. Jadi kalau berdasarkan besluit itu berdirinya Banjarnegara bersama dg yg lainnya kecuali Banyumas yg berdiri setelah berakhirnya Kadipaten Wirasaba.
BalasHapusMemang Dipayuda IV perintis dan Bupati Kab Banjarnegara I. Yaitu berdasarkan besluit kesepakatan Raja dg pihak Hindia Belanda, setelah Perang Diponegoro 1830, tepatnya 1831. Sebelum ini di Banjar ada dua orang Ngabei yg masing2 diperintah oleh dua Adipati Kesepuhan di Banyumas, dan Adipati Kanoman di Banyumas juga. Jadi kalau berdasarkan besluit itu berdirinya Banjarnegara bersama dg yg lainnya kecuali Banyumas yg berdiri setelah berakhirnya Kadipaten Wirasaba.
BalasHapus